Starry Sun

Sabtu, 16 Januari 2016

Aku Mencintaimu, Meskipun...

Aku mencintai kamu sesederhana kamu membawakan makanan kesukaanku tanpa diminta
Aku mencintai kamu sesederhana kamu rela membagikan waktumu padaku seberapa banyakpun yang ku minta
Aku mencintai kamu sesederhana kamu bertanya ingin makan apa hari ini?
Aku mencintai kamu yang tidak pernah marah ketika aku meninggalkan barang penting di rumah dan memilih memutar arah sambil gemas mengacak rambutku.

Aku mencintai kamu yang ingin menyertaimu dalam setiap aku melangkah
Aku mencintai kamu yang tidak pernah marah ketika aku bangun dengan matahari yang sudah terlalu tinggi meski telponmu ku abaikan berkali-kali.
Aku mencintai kamu yang tidak pernah komplain meskipun aku sering merespon lama chat walau aku tahu kamu sedang ingin mengobrol denganku.
Aku mencintai kamu yang bercerita tanpa henti di sepanjang jalan dengan gimik yang amat lucu
Aku mencintai kamu yang mencuri cium di puncak kepalaku ketika aku sedang fokus pada layar handphoneku
Aku mencintai kamu yang selalu berucap perihal cinta dan rindu di setiap waktu tanpa ku suruh.
Aku mencintai kamu.
Aku mencintai kamu yang seperti itu.
Bagaimana bisa aku tidak mencintai kamu?
Ya, bagaimana bisa aku tidak mencintai kamu?
Buktinya aku tetap mencintai kamu meski tidak seperti itu lagi.
Aku masih mencintaimu meski tidak ada lagi kunjungan dengan makanan kesukaanku.
Aku masih mencintaimu meski kamu tidak mau lagi membuang waktumu untukmu dengan percuma.
Aku masih mencintaimu meski tidak lagi mau mengiringi langkahku kemanapun aku pergi.
Aku masih mencintaimu meski tak henti memarahiku setiap waktu dengan alasan-alasan sepele.
Aku masih mencintaimu meski kamu menyayat-nyayat hatiku dengan lidah tajammu tanpa ampun.
Aku masih mencintaimu meski hatimu telah sedingin salju tanpa sisa settik kehangatan.
Aku masih mencintaimu meski air mata ini sering mengalir tanpa kau beri belas kasih sedikitpun.
Aku masih mencintaimu meski kau selalu menyalahkan aku dan tak pernah mau mengaku salah atas apapun.
Aku masih mencintaimu meski kau hukum aku dengan sangat dahsyat dan maha sakit tanpa pernah mau mendengarku.
Aku masih mencintaimu meskipun ternyata kamu tak seperti pertama kali ku cintai dulu.

Tuan, aku mencintaimu seperti itu.

10 komentar:

  1. cinta terasa seperih ini... :'(

    BalasHapus
  2. Aku mencintaimu dan tetap mencintaimu, meskipun aku tak tahu takaran cintamu pada diriku. :)

    Dalem banget puisinya, mbak. Layaknya sebidang tanah, kalau digali dengan sangat dalam, pasti akan mengeluarkan air. Dan, puisi yang "dalam" ini pun mampu mengeluarkan air, bersumber dari mata para pembaca. :D

    Salam kenal ya, mbak. :)
    Penjaja Kata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak ya sudah mampir disini salam kenal juga :)

      Hapus
  3. Sedih, seperih ini kah cinta huuuu

    BalasHapus
  4. Baca ini, seakan ada bunyi krekk.

    BalasHapus
  5. Aku mencintaimu, Bambang. *Apasih.
    Btw, nice :)

    BalasHapus

penulis sangat membutuhkan kritik, saran serta semangat :)