Starry Sun

Rabu, 29 Juli 2015

Aku masih tetap begini

Tuan yang telah ku tinggalkan jauh di belakang garis mulai. Setelah kuntum asmara layu tak memunculkan semerbak kebahagiaan lagi. Pada akhirnya kaki ini berani melangkahkan lembaran berisi penuh tentang kisahmu yang temaram dengan genangan penuh dalam bibir mata. Ke lembar putih bersih untuk ku mulai lagi sejumput harapan yang tersisa di akhir pentas.

Tuan yang tlah ku coret dengan lantang namanya dalam daftar masa depan. Memenggal hadirmu dengan penuh ketegaan pada diriku sendiri yang dihujani oleh perasaan cinta untukmu. Hampir putus nafas ini menerima pelepasanmu. Ronta yang ku teriakkan ku biarkan memekakkan telingaku sendiri, tuan. Sembunyi dari bayangan hitam kesunyian.

Tuan yang tak pernah ku toleh lagi arah keberadaannya. Jantung ini memburu detaknya mengikuti akal pikiran yang tak sejalan dengan hati. Dagu ini tinggi rupanya tlah ku tegakkan untuk memadamkan nyala kenangan yang masih membara merah. Ku tekan katup kelopak mata agar tak lolos airmata ini jatuh untukmu.

Tuan yang tlah enyah dalam ruang otak selama beberapa tahun ini. Sisa kenangan yang ku sulam lewat susunan kata menghantarkan alam bawah sadarku ke tepian nyala kenangan. Disana rupanya ada beberapa kenangan yang berebut ingin keluar. Untuk ku eja sisa-sisa remeh temehnya. Sesekali ku maknai keadaan masa lampau itu lewat barisan-barisan kata yang tercipta karena derit luka. Rupanya masih ngilu perasaanku walau hanya sedikit saja ku tengok lukanya.

Tuan, aku masih tetap begini. Lena akan ketidakwarasan cinta yang tercipta. Meski hatiku tlah patah berkali-kali, tak ada rebah yang turut hadir dalam penyembuhan. Meski otak meronta-ronta ketika kamu hadir barang secuil menyebabkan kasmaran dulu membunga. Bahkan meski tembok tinggi tlah ku tamengkan sebagai penjagaan dari apapun tentangmu. Tak ayal semua runtuh oleh kenang yang sisa-sisanya tak pernah luput disapu waktu.

Tak pernah berubah, masih tetap seperti ini. Mengenang waktu, berujung rindu. Mempermasalahkan kebodohan karena dulu tak berniat melahap habis perhatian darimu tuan. Sekarang untuk menghilangkan dahaga rindu pun aku tak mampu. Kerontang disengat panas kesunyian. Berlarut-larut aku menahan sedih yang tak pernah ku temukan ujungnya.

Aku masih tetap begini, Tuan. Meskipun pahitnya kenyataan menghimpit ulu hati hingga tembus ke belakang. Sakitnya masih tak seberapa, dibanding kehilangan separuh jiwa. Nestapa yang selalu berhasil diserap dengan hebatnya. Jenjang waktu lama tak menciptakan jarak cinta yang pula jauh untukmu. Tameng tembok tlah runtuh jua kan

Tuan, segalaku telah berusaha melupakan segalamu. Tapi, aku masih tetap begini. Mencintaimu.

4 komentar:

  1. Uhhh hati yang baca juga ikut tergetar :')
    keren binggow, bikin semakin pengen belajar nuliss. Sukses terus yah mbak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya. Sama2 lagi belajar juga nih :))

      Hapus
  2. maaf aku bingung ngga tau jalan ceritanya hehe...

    BalasHapus

penulis sangat membutuhkan kritik, saran serta semangat :)