Starry Sun

Senin, 09 Maret 2015

sepanjang malam

Malam itu. Aku mengirimimu sebuah video berbahasa Inggris lewat chat. Setelah sebelumnya tak pernah aku mengirim chat duluan walau hanya bertanya kabar setelah peristiwa kamu tak kunjung datang. Lantas kamu tanya
"Apa isinya? Nggak ngerti,"
"Buka google translete." "Jika kamu ada waktu," lanjutku. Percakapan kita terhenti sampai disana.

Malam itu pula pukul 2 pagi, kamu bilang telah selesai membacanya. Dan ada begitu banyak chat setelahnya. Kamu tahu? Aku ingin berpura-pura tidur saja dan tidak ingin membaca sepanjang barisan-barisan kata yang kamu kirim. Karena aku tahu isinya tak lebih dari pembelaan dirimu. Tapi kamu tahu kan? Aku selalu luluh.

Ternyata balasan-balasan itu menimbulkan percikan rindu yang terlalu meriah. Kamu menelponku. Butuh waktu beberapa detik untuk memutuskan mengangkat telpon itu. Karena detak-detak jantung ini tidak dapat menutupi ada grogi disana. Aku takut. Aku takut bila mendengar suaramu, benteng yang ku buat akan rapuh.

Malam itu, bukan hanya untuk sekedar berbasa-basi menanyakan kabar atau hanya sekedar ingin mendengar apakah suara kita ada yang berubah. Lebih dari itu. Ada banyak kalimat yang meluncur dari seberang telepon. Bukan hanya barisan-barisan kalimat yang hadir, namun sosok kehadiran.
Malam itu, jika kamu masih ingat. Ada tetesan-tetesan air mata yang mengalir tanpa terlihat. Bukan hanya dari seorang perempuan merah muda yang biasa kamu buat menangis. Ada yang beda. Malam itu kamu juga ikut terisak. Aku tidak akan melupakan isakan itu bahkan bila aku melupakan apa penyebabnya kamu terisak. Karena rasanya dalam sekali isakanmu. Penuh peluh dan perih. Dalam beberapa detik, ingin sekali aku memelukmu dalam dekap dan menyandarkanmu di bahuku.

Setelah ku tanya apa rasanya tidak ada aku? Jelas kamu menjawabnya "kehilangan". Kamu bilang tidak ada yang bawel lagi. Tidak ada yang perhatian lagi. Loh bukannya kamu banyak menebar pancing kemana-mana? Lantas kamu jawab tidak pernah dekat lagi dengan perempuan manapun setelahku. Ah masa? Aku tidak percaya laki-laki sok ganteng sepertimu tidak dekat dengan siapapun.
"Gitu ya, kalo orang udah biasa bohong gak lagi dipercaya," katamu. Nah, kamu sendiri mengerti mengapa perempuan yang selalu percaya padamu sekalipun tahu bahwa kamu bohong padanya- sekarang tidak mempercayaimu lagi.

Tapi, apakah kamu tahu? Bahwa diam-diam aku mulai mempercayaimu malam itu. Kamu selalu menjadi orang yang aku percayai. Tidak peduli seberapa sulit itu harus dipercayai, aku selalu mempercayaimu. Kamu laki-laki yang pintar sekali merangkai kata-kata untuk membuatku luluh. Kamu laki-laki yang selalu mendapat simpatiku. Kamu laki-laki yang mengalahkan beberapa orang hebat yang ingin mendekatiku. Kamu laki-laki yang ku pilih tanpa melihat sekeliling laki-laki lain yang menunggu.
Kamu yang ternyata tak pantas ku percayai.

- BERSAMBUNG-
baca kisahnya di postingan selanjutnya ya klik disini LELAKI PEMBOHONG YANG BODOH
selamat membacaaaa


----------***----------

 kata kunci : sajak-sajak patah hati, kata-kata cantik, sajak-sajak kehilangan, sajak-sajak ditinggalkan orang, sajak-sajak masalalu, puisi tentang menunggu, puisi ditinggalkan ketika sedang pendekatan,  sajak-sajak galau, puisi tentang kehilangan seseorang, sajak-sajak sedih, puisi tentang patah hati, puisi tentang ditinggalkan seseorang, puisi tentang masalalu, sajak-sajak masalalu, puisi bersambung, puisi cantik

14 komentar:

  1. menyukai laki2 yang salah?
    pedih memang..

    BalasHapus
  2. hmmm ~
    https://aksarasenandika.wordpress.com/2015/03/12/jauh/

    BalasHapus
  3. saya ngga tahu apa maksud atau kesimpulan ceritanya hehehe *maaf ngga pandai mengambil pelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba baca kelanjutannya itu kan bersambung :)

      Hapus
  4. Hmmmm.... Beruntung sekali laki-laki itu.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah salam hangat dari palembaang :)

      Hapus

penulis sangat membutuhkan kritik, saran serta semangat :)