Starry Sun

Sabtu, 14 Maret 2015

Demi Tuhan, aku kecanduan

Aku adalah seekor burung yang lepas dari sangkar. menikmati hembusan angin yang menerpa sejuk di sekujur kepak sayap yang terbungkus oleh putihnya bulu-bulu. Menikmati titik-titik rinai hujan yang merembes melembabkan lalu jatuh menjadi embun. Merasakan masuknya sinar mentari di pelupuk mata sambil ku kepak sayapku arahnya. Namun, ternyata aneh. Ciptaan Tuhan ini ku nikmati sendiri di tepian telaga hidup. Menengok arah darimana akan datangnya teman hidup disematkan?

***
Ribuan detik telah ku lewati dengan penuh degup-degup bodoh yang jarak penyebabnya bahkan puluhan meter. Menikmati setiap kedipan mata yang terlihat hanya seujung kuku. Lewat sebilah harapan, semoga saja kau tak menyadari keberadaan perempuan penikmat bayangan di sela-sela tanaman berakar gantung ini.
Jarak kita jauh, namun dekat pula. Aku berada di hadapanmu namun tak jua kau tahu bahwa aku mencintaimu. Sesederhana ketika kau mengambilkan kertas tugasku yang jatuh ketika sedang menggandakan soal-soal akhir semester. Serupa ada namun hampa. Biarlah, kamu tetap melahap gelap hidupku dan menciptakan terang.

Kau pula yang sering menggoreskan ribuan halaman warna warni dalam lorong hati ini. Ketika balasan pesan singkat mengalir bagai air menemui peraduannya. Menggulung-gulung tawa kita hingga mengemasnya ke dalam atmosfer jingga kemerahan. Senja yang indah dinikmati oleh sepasang anak adam dan hawa di pelataran langit yang memerah.
Getaran maha dahsyat pula terjadi ketika tiba-tiba sentuhan kulit telapak tanganmu menyisipi jari-jemariku, ketika kita sedang lari sore sabtu itu. Ulahmu menggelontorkan gugup disana sini dan meronanya pipi bakpao yang sering kau cubit ini. Panasnya tak padam, hingga deraian tawamu mengolok-olokku ketika kau tangkap perubahan suhu badan ini. Bukankah itu sangat manis?

Rangkaian asa yang sulit kau terjemahkan mungkin hanya akan menguap tanpa arti. Tiada keberanian diri ini untuk mengucapkan betapa kau menjadi candu bagiku. Mata ini harus menilik manik matamu barang sejenak saja setiap hari, udara yang kau hembuskan harus masuk ke dalam rongga paru-paruku, telinga ini harus pula mendengar rentetan tawa renyahmu. Pun rambutku yang katamu halus ini butuh belaian lembut dari tangan gagahmu. Bibir ini tak henti mengukirkan namamu hingga terpatri jelas. Demi tuhan, aku kecanduan.
Namamu berdansa di setiap sel otak. Keinginan untuk bersamamu menikam ulu hati untuk menyegerakan. Kabut-kabut ketidakpastian mulai membutakan mata. Tidak ada lagi lahan untuk orang lain di dalam sanubari. Semuanya tentangmu, selalu tentangmu. Bahkan organ-organ tubuh ini berkoloni selayaknya meneriakkan cinta untukmu. Ada apa dengan diri ini, Tuhan?

Tiba-tiba saja ada sebuah pecahan tangis. Gelap merengkuhku lebih dalam, dari biasanya. Tatapan kosong lurus tak terelakkan. Tubuhku kejang gemetar tak karu-karuan, hendak limbung. Suaramu mengaung seketika di sekujur tubuh ini, berat sekali. Tiba-tiba saja aku menemukan luka yang penuh, sadis. Harum masa depan yang merah muda terhenti merubah kelat yang amat pekat. Hujan pedih membahana dan membasahi ranumnya kembang asmara hingga kuncupnya layu.
Loh, ada apa ini? Kemana latar merah mudanya? Hilang begitu saja?
Suara lagu mengiris-iris menggema mengacak-acak kehidupan dengan anarki. Memelintir tali harapan yang sedang digantungkan, lalu putus hingga jatuh ke tanah. Perempuan cengeng ini sedang menertawakan sesuatu yang bodoh. Para perindu bahkan pula menertawainya, dengan sangat melengking hingga memekakkan telinga. Aku sudah seperti orang tidak waras.

Hahaha tertawai saja perempuan bodoh yang penuh ilusi ini. Parodi cintanya sungguh menggelakkan tawa. Hangatnya rangkulan tanganmu sungguh melenakan. Ku hitung seberapa banyak kupu-kupu terbang dalam perut ini, tak terhingga. Tak pula terhingga petakan yang tercipta dari sayat-sayat kepastian. Hingga asa ini lebur dan meleleh. Hahaha tertawai saja lagi aku.

"Aku sedang menyukai seseorang," katamu sore itu sambil merangkulku. Ada ribuan penggebuk drum yang lancang menggebuk jantung ini.
"Siapa?," ucapku berbinar.
"Ayu," katamu tak kalah berbinar dengan sunggingan senyum yang merona.
Gelap seketika. Aneh. Hancur. Lebur. Retak. Petir menyambar-nyambar. Menggigil. Meringis. Dengki. Poranda. Meringkuk. Luka. Namaku Cavella Vega.

***

Burung itu lemas kedinginan. Ternyata rinai hujan tak lagi hanya sebuah rintik. Oh, burung itu adalah aku. Sendirian, menunggu cahaya matahari menghangatkan. Dari dalam gua gelap yang mencekam. Lantas, dari arah mana sosok yang akan menyembuhkanku tiba?

----------***----------

kata kunci : sajak-sajak patah hati, kata-kata cantik, sajak-sajak kehilangan, sajak-sajak ditinggalkan orang, sajak-sajak masalalu, menunggu seseorang, ditinggalkan ketika sedang pendekatan,  sajak-sajak galau, sajak-sajak galau, tentang kehilangan seseorang, sajak-sajak sedih, puisi patah hati, puisi kehilangan, puisi tentang ditinggalkan seseorang, puisi masalalu, sajak-sajak masalalu, puisi cinta bertepuk sebelah tangan, analogi patah hati.

9 komentar:

  1. kisahnya kayak kisah diriku :') jadi flashback :( KZL!!!!

    BalasHapus
  2. Diksinya membuatku merinding.... slm knl mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih ya mak salam kenal juga :)

      Hapus
  3. diksinya bagus, kata-katanya juga bagus... mengalir begitu saja... tipe-tipenya ini tulisan kayak tipe aforisma :3

    BalasHapus
  4. diksinya bagus, kata-katanya juga bagus... mengalir begitu saja... tipe-tipenya ini tulisan kayak tipe aforisma :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kurang ngerti apa itu afrorisma, nanti dicari tau Den h. Makasih ya :(

      Hapus
  5. Sebagai anak sastra, aku merasa kurang kekinian gitu baca postingan ini.. Diksinya mantep euy! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ada anak sastra nih makasih ya :D

      Hapus

penulis sangat membutuhkan kritik, saran serta semangat :)