Starry Sun

Minggu, 08 Juni 2014

Pahit dalam manis (1)

Dalam resah gelisah yang menyelubungi, ku tutup pintu hati rapat-rapat. Dalam gelap yang tak tertembus cahaya terdengarlah auman rintihan yang mengisak. Mengiris dan menyayat hati bagai belati yang pelan-pelan mengkhunus. Amat perih.
Percikan derasnya hujan yang turun dalam mendung yang sangat gelap. Menggetarkan aku yang menggigil dalam badai ketakutan yang ku ciptakan sendiri. Tiada yang sanggup menolong, petirnya ku buat menyambar-nyambar. Menggenang hingga banjir hampir memusnahkan aku yang tak beranjak.
Kerontangnya tanah bersimbah cahaya yang pekat dari teriknya matahari. Membuat retak pijakan. Daun terakhir yang gugur di musim ini, ku saksikan dengan pilu tanpa ekspresi. Sudah tak ku rasakan lagi derita mengubun-ubun yang membuat otak ini mendidih. Yang ku rasakan hampa. Gersang tak berkesudahan. Bahkan fatamorgana air pun tak sanggup ku rasakan.
Detik jam yang ku lihat setiap waktu, mengharapkan berjalan mundur. Lalu untuk apa ku tunggu? Dalam kesia-siaan masih saja aku perhatikan tanpa beranjak. Tanpa makan. Tanpa minum. Tanpa gerak. Dalam waktu yang lama. Ku cari ujungnya dari waktu ini, tapi waktu terus mengalir dalam putaran yang tiada henti tiada ujung.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Sedihnya beranak pinak membelah menjadi banyak. Tiadalah yang sanggup menolong aku dari keterpurukan ini. Tiadalah. Tiadalah yang mau menarik aku dari pusaran hitam yang menyedot kebahagiaan. Tiadalah. Tiadalah yang bersikeras membopong aku yang terlentang tanpa daya menunggu mati ke arah cahaya. Tiadalah. Tiada yang tulus ingin membawaku pulang.

Ah, kamu cahaya. Datang mengirim pangeran. Sosok berkuda putih dalam sebuah dongeng sebelum tidur yang akan menyelamatkan putri tidur. Akankah? Akankah sanggup? Akankah mau? Akankah bersikeras? Akankah tulus? Percaya sudah terlalu mahal bagiku.
Namun dengan kesungguhan yang tulus, kamu sampirkan kepelikan yang mengkerudungi kalbuku. Dengan penuh kesabaran tentunya karena tak mudah aku membiarkan orang lain maju hingga dapat menginjak bayanganku. Kamu gigih, kamu berkeras dengan segala kelembutan yang tercurahkan.

Perlahan tapi pasti aku mulai melirikkan mataku ke arahmu. Dengan sayu dan bengkak disana sini. Rambut yang berantakan kamu rapikan ke belakang telingaku dan menarik sudut-sudut bibirmu untuk ditularkan padaku. Tertunduk aku berusaha menyangkal lagi. Bahwa cahaya yang datang akan segera menepis selimut badai berderai-derai.

Kamu ajarkan aku melangkah, ke arah mata air. Kamu basuhkan segarnya ke relung paling penat ruang persemayamanku. Kamu ajak aku menyirami tanah yang gersang agar lunak dan nyaman untuk kita pijak. Kamu bawa aku berpijak pada rumput hijau yang asri untuk menyamankan kaki yang sudah luka berdarah menapaki reruntutan kejadian pahit tanpa henti. Kamu berikan aku pakaian musim semi berbunga-bunga agar cantik dengan mawar yang kamu sampirkan di telingaku. Kamu ajak aku berjalan ke depan tanpa membiarkan aku menoleh ke belakang untuk mengingat walaupun kamu tidak tahu apa penyebab kehancuranku. Dan aku sangat berterimakasih karena kamu tidak pernah berusaha mengoreknya agar menjaga perasaanku makin membaik.

Kamu cahaya, memperbaiki kehidupan hancur pasca kekalutan yang aku derita. Kamu mengajarkan aku menata hidup untuk kembali ke dalam dunia. Ke dalam kehidupan. Oleh uluran tangan lembut dan hangat yang kamu punya tentunya. Menjalari setiap sel darah yang mengalir dalam aliran di tubuh. Aku kembali hidup
Kamu hebat dapat menyembuhkan aku yang sudah setengah gila menemui kisah-kisah yang sulit untuk ku ceritakan. Tak pula denganmu, tak pula sanggup aku ceritakan. Biarkan badai itu berlalu dan memang tlah berlalu. Karenamu. Tak ingin aku mengingat setiap detail serat-serat luka yang tercipta.

Yang ku iginkan meniti hidup baru yang kamu tawarkan sekarang. Menyongsong hari esok dalam lembar baru yang kamu siapkan. Untuk kita susuri jelasnya. Kamu cahaya, tuntun aku ke sinar yang paling terang. Aku mohon beri penjelasan atas mengapa kamu datang menyelamatkan.

ps : ini adalah cerita bersambung yang dibuat dalam 4 posting. penasaran dengan kelanjutannya? yok baca lanjutannya klik disini
pahit dalam manis 2 > http://ladycharindaa.blogspot.com/2014/06/pahit-dalam-manis-2.html
pahit dalam manis 3 > http://ladycharindaa.blogspot.com/2014/06/pahit-dalam-manis-3.html
pahit dalam manis 4 > http://ladycharindaa.blogspot.com/2014/06/pahit-dalam-manis-4.html
selamat membaca :)

----------***----------

 kata kunci : sajak-sajak patah hati, kata-kata cantik, sajak-sajak kehilangan, sajak-sajak ditinggalkan orang, sajak-sajak masalalu, puisi tentang menunggu,  sajak-sajak galau, puisi tentang kehilangan seseorang, sajak-sajak sedih, puisi tentang patah hati, puisi tentang ditinggalkan seseorang, puisi tentang masalalu, sajak-sajak masalalu, puisi cantik, puisi tentang melupakan masalalu, puisi tentang kekecewaan, puisi tentang penyesalan, puisi tentang merindukan seseorang, puisi tentang meninggalkan orang

12 komentar:

  1. Pahit........ tapi manis :')

    Btw, salam kenal yaakk :)
    Blog Ijal Fauzi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca posting selanjutnya biar kebaca sampe abis :) salam kenal juga ijal

      Hapus
  2. Kayak tersayat-sayat otak gua baca ini semua, terlalu masuk ke hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang kesayat otak nih bukan hati? Hehe

      Hapus
  3. tisu mana tisu... lotion sekalian dah #hening

    BalasHapus
  4. kancut baru salam kenal yah :) aku HS di jakarta thanks

    BalasHapus

penulis sangat membutuhkan kritik, saran serta semangat :)