Starry Sun

Minggu, 25 Oktober 2015

Kabar Kabut Kepada Kawan

Fajarnya tak lagi syahdu, kawan
Merahnya padam dibawa kabut nan rimbun secara biadap
Anginnya debu berupa abu-abu kelabu
Segarnya hilang mengerutkan paru menggersangkan kalbu
Paru-paruku serupa mengkudu alum dan menciut

Siangnya tak terik lagi, kawan
Padatnya kabut memayungi kepala bumi
Wangi-wangi kami menjadi serupa, tak lagi rupa-rupa
Asap, debu dan abu melekati helaian rambut
jalan-jalan berselimut serbuk-sebuk

Senjanya tak rupawan lagi, kawan
Kami kehilangan terminal menuju malam
Retas pula hati para pujangganya
Sebab lesaplah salah banyak sumur inspirasinya
Termangu menanti senja kembali pulang pada peraduan

Malam kami tak berbintang lagi, kawan
Bintik-bintik kecilnya tak lagi berpendar
Pijarnya terlalu ringkih tuk mengemban tugas pancarkan bumi
Meringkas malam lebih lekas dari biasanya
Sebab gemintang telah patah hati pada bumi pertiwi

Tidur kami tak lelap lagi, kawan
Menyesap asap terlalu khidmat
Malam kami mencekam kala malam makin meninggi
Sesaknya sampai tak karu-karuan megkhawatirkan kami
Kelak pada suatu subuh, kami tak sanggup membuka mata lagi
Barangkali satu persatu bunga gugur bertabur di makam nanti

13 komentar:

  1. Keren banget puisinya mba lady :D

    BalasHapus
  2. ni tentang , patah hati sama cowok apo asap?

    BalasHapus
  3. Bikin ajakan #OksigenUntukTeman dong sekalian :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh mincut, nanti di posting deh :)

      Hapus
  4. Beda emang anak malam puisi. Puisinya bagus :))

    BalasHapus
  5. *o*

    waktu angin kembali menerpa dingin, nanti,
    waktu mentari dan bintang kembali silau, nanti,
    waktu asap menari bersama kembang api pesta perayaanmu, nanti,
    jangan lupa kawan, hutanmu, nafasmu

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Buat temen2 yang nggak tau keadaan palembang mak :(

      Hapus

penulis sangat membutuhkan kritik, saran serta semangat :)